Bernas24.com | Aceh Timur — Peringatan 21 tahun perdamaian Aceh diisi KPA/PA Daerah I Peureulak dengan kegiatan sederhana namun sarat makna. Bersama masyarakat, mereka menggelar doa bersama dan menyantuni 40 anak yatim/piatu di Desa Geulumpang Payong, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Aceh Timur.
Alih-alih menggelar perayaan secara berlebihan, momentum tersebut dimanfaatkan untuk mengenang para syuhada yang telah gugur sekaligus memperkuat semangat kebersamaan di tengah masyarakat.
Ketua Panitia, Jainuddin, S.E. atau yang akrab disapa Geuchik Joi, mengatakan kegiatan tersebut sengaja dikemas dalam bentuk doa bersama dan santunan sebagai bentuk rasa syukur atas terjaganya perdamaian Aceh.
Menurutnya, peringatan perdamaian tidak semata-mata harus diwujudkan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga perlu menjadi momentum untuk merawat persaudaraan, memperkuat kepedulian sosial, serta mengingat kembali nilai-nilai perdamaian yang telah diperjuangkan.
“Perdamaian Aceh adalah milik seluruh masyarakat Aceh. Karena itu, kita harus bersama-sama menjaganya dan menolak segala bentuk aksi bernuansa provokasi yang berpotensi mengganggu serta merusak suasana damai yang telah kita rasakan,” kata Geuchik Joi.
Ia menegaskan, perbedaan latar belakang, pilihan maupun pandangan di tengah masyarakat tidak semestinya menjadi sumber perpecahan. Sebaliknya, keberagaman harus ditempatkan sebagai bagian dari kekuatan masyarakat Aceh dalam menjaga stabilitas dan keberlanjutan perdamaian.
“Jangan sampai perbedaan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menciptakan keresahan. Perdamaian harus menjadi ruang bersama untuk membangun Aceh yang aman, tertib dan sejahtera,” ujarnya.
KPA/PA Daerah I Peureulak juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga komunikasi dan memperkuat hubungan antara masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemerintah serta unsur keamanan.
Menurut mereka, sinergi lintas elemen menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat sekaligus memastikan nilai-nilai perdamaian tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Momentum 21 tahun perdamaian Aceh, lanjutnya, juga diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan mengenang masa lalu, tetapi menjadi pengingat bahwa perdamaian membutuhkan komitmen bersama untuk terus dirawat.
“Perdamaian bukan hanya tentang berhentinya konflik, tetapi bagaimana masyarakat mampu menjaga persaudaraan, menghormati perbedaan dan menyelesaikan persoalan dengan cara-cara yang damai,” kata Geuchik Joi.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kapolsek Sungai Raya Zulfahmi, S.H., Wadanramil Sungai Raya Didik D., Pang Age yang diwakili Geuchik Joy, Sagoe Peureulak Timur Sofyan, Sagoe 76 Safrizal, unsur KPA/PA, Keuchik Geulumpang Payong Idris, serta sejumlah tokoh masyarakat, Imam Abdullah dan Tgk. Ibrahim.
Selain menjadi bentuk rasa syukur atas perjalanan perdamaian Aceh, kegiatan tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa menjaga perdamaian merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.

